Jana berkunjung ke banyak universitas cybersecurity seperti yang ditulis oleh ingeborg karen, dan juga mengamati pembangunan perkembangan teknologi serta lingkungan digital ecosystem di Indonesia di blog tumblr ini. Besok-besok mungkin akan ke Kalimantan, siapa tau bisa menuju ke Universitas Tanjungpura
“Mas. Bisa punya penghasilan bersih 10 jutaan dari Milagros seperti Mas Arief, itu gimana caranya?”
“Gimana kalau kita ngobrol dan diskusi bertiga sama Mentor saya sekalian. Ngga lama, 15-20 menitan doang. Mbaknya ada waktu kapan?”
“Wah ngga tau Mas, ini kerjaanku banyak. Nunggu anak tidur dulu.”
“Oh ya sudah, nanti kalau bener-bener sudah siap memprioritaskan waktunya untuk bisa dapet 10 jutaan dari Milagros, kontak-kontak aja.”
—
Percakapan sejenis di atas, bukan 1-2x doang saya alami. Bisa dibilang sering. Ceritanya selalu cerita lama, entah berkutat dengan kesibukan, manajemen kegiatan yang kurang pas, ditambah lagi dengan kebingungan menentukan prioritas.
Saya memahami, setiap orang pasti punya dilema kesibukannya sendiri, apapun profesinya. Mau itu sebagai karyawan, mau itu sebagai anak, mau itu sebagai orang tua, ataupun sebagai pasangan (suami / istri).
Saya juga tidak pernah menyarankan kepada mereka yang mau serius berbisnis, untuk mengabaikan aspek keluarga. Karena walau bagaimana pun, keluarga dulu, baru bisnis.
Saya yakin semua juga sepakat.
Itulah kenapa, kalau ditanya kapan waktu yang tepat untuk berbisnis, saya selalu menjawab, “TIDAK ADA!” Karena waktu yang tepat, ya kita ciptakan sendiri. Kita luangkan sendiri.
Contoh seperti obrolan pembuka status ini. Dengan seabrek aktivitas si penanya, nyari waktu yang tepat ngga akan pernah dapet. Yakin saya! Walaupun yang bersangkutan bilangnya, butuh, mau, dan sejenisnya.
Padahal di sini kita sedang bicara soal PRIORITAS. Jika memang dirasa penting, ya diluangkan waktunya. Toh ngga sampai 24 jam juga.
Apalagi dalam contoh di atas, hanya 15-20 menit saja. Apa iya, ngga bisa dikondisikan sebentaaaaar aja, 15-20 menit itu? Apa iya, anggota keluarganya ngga bisa diajak kerjasama sebentaaaaar aja, 15-20 menit itu?
Jadi kalau ada yang tanya mengenai kunci dari manajemen kegiatan dalam bisnis, ya prioritas. Bikin prioritas kegiatan, jadwalkan, dan eksekusi. Karena sudah dijadwalkan, maka diatur dan dikondisikan sedemikian rupa.
Jika memang masih belum bisa juga, well, mungkin ada baiknya ngga berbisnis sekalian. Daripada nanti keluarga malah keteteran ngga keurus. Ini masih bicara prioritas kegiatan lho ya, belum delegasi dalam bisnis dan lain-lainnya.
2019 sudah hampir berakhir, yuk dikurang-kurangin drama dan baper bisnisnya. 😆
REKRUT SAJA TIDAK CUKUP
Kemarin saya ngobrol bertiga dengan Mentor dan juga tim di Republik Ungu. Ada bahasan yang cukup menggelitik. Bahasannya memang seputar bisnis Milagros, namun menurut saya ini konsep mendasar dalam bisnis apapun.
Ingatan saya membawa pada 8 tahun yang lalu lalu, ketika diterima di BUMN tempat saya bekerja saat ini. Setelah proses rekrutmen selesai dan saya resmi menjadi karyawan BUMN, maka selanjutnya adalah fase TRAINING sebelum diterjunkan ke lapangan.
Jadi ngga ada ceritanya, abis direkrut, langsung disuruh ke lapangan untuk survey dan membuat laporan surveynya.
Proses ini hampir sama di semua lini bisnis rasanya. Setelah rekrut, training dulu, baru kemudian menjalankan tugas di lapangan.
Yang bagian sales, ya berarti training dulu. Entah training penjualan, pengetahuan produk, ataupun materi lainnya yang dirasa dibutuhkan. Baru kemudian diterjunkan. Begitu pula divisi lainnya.
Dengan kata lain, dalam bahasa yang lebih ciamik adalah INSTALL SYSTEM.
Fenomena ini terjadi juga di tim Republik Ungu. Rekrut saja ngga cukup. Jika fokusnya sekedar rekrut, maka yang didapat hanyalah sebatas bonus penjualan dari hasil rekrutmen. Selesai sudah, omset ngga berkembang.
Akhirnya jadi terjebak ke arah personal sales melulu, bukan team sales. Padahal yang membuat besar bonus adalah team sales.
Maka fase “INSTALL SYSTEM” ini mutlak mesti dihadirkan. Hanya saja dalam hal ini, karena di Republik Ungu basisnya adalah komunitas dan bukan perusahaan, maka proses install system ini bisa difasilitasi dari satu kegiatan yang namanya KONSULTASI.
Nah, bagi temen-temen yang saat ini bisnisnya juga melakukan proses rekrutmen tim penjualan, coba dievaluasi deh. Jangan-jangan pergerakan tim penjualan bisnisnya stagnan, karena emang ngga pernah diinstall system alias ngga pernah dibina. Asal rekrut saja.
Pun jika ada pembinaan, pembinaannya juga asal-asalan. Ngga didesain secara khusus untuk tujuan tertentu atau bahasa lainnya, kurikulum pembinaannya ngga ada.
Bicara soal pembinaan tim dan dampaknya terhadap penjualan, saya melihat polanya mirip. Rekan-rekan saya yang melakukan proses pembinaan, timnya bisa bergerak selaras dan ngomset rame-rame. Sementara yang cuma fokus rekrut doang tanpa pembinaan, biasanya ya cuma di situ-situ aja.
Kalau cuma sekedar merekrut, itu mudah. Yang jadi tantangan adalah, setelah direkrut, mau diapain itu timnya? Mau dibiarin?
Semoga bermanfaat.